RSS

HAKEKAT KURBAN

09 Sep

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Tiga hari lagi kita akan merayakan hari Raya Idul Adha

Idul adha yang kita rayakan pada setiap tanggal 10 Dzulhijah dikenal dengan sebutan “Idul Qurban”. Perkataan kurban seakar dengan kata taqarrub, yang berarti mendekatkan diri kepada Allah, dimana orang yang memiliki kecukupan harta diperintahkan untuk berkurban, yaitu menyembelih hewan qurban.

Ibadah kurban termasuk ibadah yang tertua dalam sejarah manusia. Ibadah ini dilukiskan QS Al Maidah (5) ayat 27 – 31 berasal dari dua putra Nabi Adam, Habil dan Qobil, yang mempersembahkan kurban mereka kepada Allah. Allah menerima kurban Habil. Karena dilandasi oleh ketulusan dan keikhlasan. Sementara kurban Qobil yang didasari oleh rasa iri dan dengki kepada saudaranya tidak diterima Allah. Karena sakit hati, Qobil akhirnya membunuh Habil. Itulah pembunuhan pertama dalam sejarah manusia.

Dalam perjalanan sejarah, ibadah kurban pun mengalami penyimpangan. Kurban tidak lagi diniatkan untuk mengabdi, berserah diri, menghambakan diri  kepada-Nya, tapi “upeti” untuk membujuk agar tuhan-tuhan penguasa alam tidak murka. Bahkan di Mesir kuno, yang dikurbankan adalah manusia (wanita tercantik di negeri itu).

Nabi Ibrahim as bersama putranya Ismail diutus untuk mengembalikan hakikat kurban. Melalui ujian yang mahaberat- Ibrahim as diperintahkan menyembelih putranya, seperti terekam dalam QS As Shaffat (37) ayat 100-102

رَبِّ هَبۡ لِى مِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ (١٠٠)

  1. Ya , anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh.

فَبَشَّرۡنَـٰهُ بِغُلَـٰمٍ حَلِيمٍ۬ (١٠١)

  1. Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang Amat sabar

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡىَ قَالَ يَـٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلۡمَنَامِ أَنِّىٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰ‌ۚ قَالَ يَـٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُ‌ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِينَ (١٠٢)

  1. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Dari riwayat tersebut diatas kita bisa mengambil beberapa hikmah yang hendaknya dijadikan sebagai pelajaran bagi kita

  1. Pertama

Bahwa setiap pengorbanan, ujian kalau dilandasi dengan keimanan, ketulusan dan kecintaan kepada Allah SWT akan terasa ringan, tidak berat untuk melaksakannya

Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim AS, begitu ringan melaksanakan perintah, ujian yang amat berat, ujian yang sangat dasyat untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail AS. Padahal berpuluh-puluh tahun dia mendambakan, mengidamkan, mengharapkan kehadiran seorang anak,  dalam setiap doanya :

Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh (QS. As Shoffat (37) : 100

Kemudian Allah SWT mengabulkan doanya dengan kelahiran Nabi Ismail AS, seorang anak yang amat penyabar, penyantun dan lemah lembut. Hati Ibrahim AS begitu bahagia dengan kehadiran  seorang anak tercinta, buah hati, belahan jiwa, anak yang jadi dambaan, kebanggaan, harapan sebagai pelanjut keturunan dan perjuangan dimasa yang akan datang. Dan setelah hadir, Nabi Ibrahim AS sangat mencintai, menyayangi anaknya, Nabi Ismail AS,  tiba-tiba mendapat perintah dari Allah SWT untuk menyembelih anaknya tercinta. Mendapatkan perintah seperti ini, Nabi Ibrahim tidak merasa keberatan, karena imannya yang berbicara. Disadari bahwa anak ini adalah karunia dan sekaligus amanat dari Allah SWT. Ketulusan dan keyakinan bahwa Allah SWT membalas pengorbanan seorang hamba, itulah yang menjadikan para kekasih Allah SWT, rela berkorban dengan jiwa dan raga dijalan Allah.

  1. Kedua

Bahwa siapapun yang berkorban dengan tulus, maka Allah SWT tidak akan membiarkan hamba tersebut  kehilangan kenikmatan yang pernah dikaruniakan kepadanya.

Jika harus ada nikmat yang terkurangi, itu karena Allah ingin menggantinya dengan yang lebih baik dan berarti untuknya.  Nabi Ismail AS tidak hilang dari pangkuan Nabi Ibrahim AS, akan tetapi Allah menggantinya dengan domba, gibas yang besar. Nikmat Allah yang diberikan kepada Nabi Ibrahim, yaitu Nabi Ismail tidak jadi hilang. Nabi Ismail tetap ada. Dengan kepatuhan dan ketulusan Nabi Ibrahim AS dalam berkorban. Allah SWT memberi nilai dan tambahan nikmat kepada nabi Ibrahim dan Nabi Ismail As, yaitu pembela dan pengayom kota suci Makkah dan akan dikarunia oleh Allah keturunan-keturunan yang sholeh dari para nabi yang datang setelahnya.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

  1. Ketiga

Hendaknya kita bisa meneladani sikap pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam kehidupan sehari-hari.

Kita sebagai ayah hendaknya bisa meneladani sikap pengorbanan Nabi Ibrahim, seorang ayah yang patuh, tunduk dan cinta kepada Allah. Kecintaannya kepada Nabi Ismail tidak melebihi kecintaannya kepada Allah SWT. Kecintaanya kepada Ismail tidak melalaikan dan melemahkan pengabdiannya kepada Allah. Kecintaan kepada anak, istri, harta benda, kekayaan, pangkat, jabatan, kedudukan, pekerjaan jangan sampai mengahalangi, mengurangi, membatasi kecintaan kita kepada Allah SWT

Relakah harta benda, kekayaan yang kita kumpulkan bertahun-tahun, dikorbankan untuk kepentingan agama Islam, untuk pembangunan mesjid, yatim piatu dll

Relakah pangkat, jabatan, kedudukan yang kita bangun berpulu-puluh tahun dikorbankan untuk kepentingan syariat Islam.

Kita sebagai anak diharapkan bisa meneladani sikap pengorbanan Nabi Ismail AS, seorang anak yang patuh, tunduk  kepada Allah SWT, berbakti, taat dan hormat kepada orang tua. Jadilah Ismail – Ismail masa kini yang pikirnya cerdas dan berkualitas, hatinya tulus dan ikhlas, ucapannya lugas dan pantas,  ini tergambar dalam ucapannya ketika mau disembelihan :  “Wahai ayah, asahlah pisau yang akan digunakan untuk menyembelihku, agar penyembelihan berjalan dengan baik dan lancar, ikatlah tangan dan kakiku, agar geleparku tidak membuat ayah bimbang, telungkupkanlah wajahku ke tanah, agar ayah tidak sedih melihat wajahku, jaga baju ayah, jangan sampai terkena cipratan darahku, agar ayah tidak iba sehingga mengurangi pahala, dan berikanlah bajuku yang berlumuran darah kepada Ibu, bahwa ayah telah melaksanakan perintah Allah SWT, sampaikan salam perpisahan kepada ibuku”

  1. Keempat

Bahwa penyembelihan binatang adalah simbol, yang mengandung arti kita harus menyembelih, memotong sifat-sifat kebinatangan kita.

Ibadah kurban juga mengingatkan bahwa kita mempunyai sifat- sifat hewaniyah, bahimiyah,. Egois, mementingkan diri sendiri, tamak, serakah, suka merusak, menyakiti yang lemah, mau menang sendiri dan tak mau mendengarkan nasihat adalah bagian dari sifat-sifat hewaniyah yang melekat pada manusia. Penyembelihan binatang kurban bisa menjadi perlambang bahwa pelakunya sedang “menyembelih” sifat-sifat hewaniyah yang tidak patut dimiliki oleh manusia yang mulia dan terhormat. Selanjutnya sifat-sifat itu diganti dengan sifat-sifat karimah, seperti suka menolong, sederhana, menyantuni yang lemah, qana’ah, tawadlu dan mau menerima kritik.

Penyembelihan binatang adalah simbol, bahwa kita harus menyembelih, memotong “meuncit” sifat-sifat pelit medit, koret ‘meregehese’, diganti dengan sifat dermawan, saling mengasihi dan menyantuni.

Mudah-mudahan kegiatan ibadah kurban yang akan dilaksanakan oleh kita akan mendapat berkah, maghfirah dan ridho Allah SWT.

Sumber : Sebagian dari Mutiara Buya Yahya, Al Bahjah

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 9, 2016 in Khutbah

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: