RSS

ESENSI KURBAN

20 Sep

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

ma

M

Seminggu lagi kita akan merayakan hari Raya Idul Adha 1436 H
Idul adha yang kita rayakan pada setiap tanggal 10 Dzulhijah dikenal dengan sebutan “Idul Qurban”. Perkataan kurban seakar dengan kata taqarrub, yang berarti mendekatkan diri kepada Allah, dimana orang yang memiliki kecukupan harta diperintahkan untuk berkurban, yaitu menyembelih hewan qurban. Sebagaimana firman Allah dalam QS Al Kautsar (108) ayat 1-3
.إِنَّآ أَعۡطَيۡنَـٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ (١) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ (٢) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ (٣)
1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
2. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.
3. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus.

Ibadah kurban termasuk ibadah yang tertua dalam sejarah manusia. Ibadah ini dilukiskan QS Al Maidah (5) ayat 27 – 31 berasal dari dua putra Nabi Adam, Habil dan Qobil, yang mempersembahkan kurban mereka kepada Allah. Allah menerima kurban Habil. Karena dilandasi oleh ketulusan dan keikhlasan. Sementara kurban Qobil yang didasari oleh rasa iri dan dengki kepada saudaranya tidak diterima Allah. Karena sakit hati, Qobil akhirnya membunuh Habil. Itulah pembunuhan pertama dalam sejarah manusia.

Dalam perjalanan sejarah, ibadah kurban pun mengalami penyimpangan. Kurban tidak lagi diniatkan untuk mengabdi, berserah diri, menghambakan diri kepada-Nya, tapi “upeti” untuk membujuk agar tuhan-tuhan penguasa alam tidak murka. Bahkan di Mesir kuno, yang dikurbankan adalah manusia (wanita tercantik di negeri itu).

Nabi Ibrahim as bersama putranya Ismail diutus untuk mengembalikan hakikat kurban. Melalui ujian yang mahaberat- Ibrahim as diperintahkan menyembelih putranya, seperti terekam dalam QS As Shaffat (37) ayat 100-103
رَبِّ هَبۡ لِى مِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ (١٠٠) فَبَشَّرۡنَـٰهُ بِغُلَـٰمٍ حَلِيمٍ۬ (١٠١) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡىَ قَالَ يَـٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلۡمَنَامِ أَنِّىٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰ‌ۚ قَالَ يَـٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُ‌ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِينَ (١٠٢)
100. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh.
101. Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang Amat sabar
102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Keteladanan Nabi Ibrahim menyembelih Ismail patut kita jadikan bahan renungan. Sepasang ayah dan anak yang saling mencintai rela berpisah dan melepas kecintaannya demi memenuhi perintah Allah SWT. Ibrahim adalah cermin seorang ayah yang sangat mencintai anaknya.. Lebih-lebih Ismail terlahir setelah ia berdoa bertahun-tahun tiada henti kepada Allah, Ismail adalah anak impian, dambaan dan kebanggaaan. Maka sejak kecil Ismail ia rawat, pelihara dan didik dengan sebaik-baiknya. Akan tetapi, kecintaanya kepada Ismail tidak melebihi kecintaannya kepada Allah. Kecintaanya kepada Ismail tidak melalaikan dan melemahkan pengabdiannya kepada Allah.

Menurut Ali Syariati (1997), Ismail tersebut sesungguhnya simbol setiap sesuatu yang melemahkan iman, menghalangi perjalanan dan memikirkan kepentingan sendiri. Ismail hanya simbol manusia, benda, pangkat, kedudukan dan kelemahan diri. Ismail adalah simbol istri, pekerjaan, keahlian, kepuasan nafsu, kekuasaan dan lainnya. Semua kelemahan inilah yang harus disembelih dan dikorbankan demi mencapai kurban (kedekatan) diri kepada Allah

Ibadah kurban juga mengingatkan bahwa kita mempunyai sifat- sifat hewaniyah, bahimiyah,. Egois, mementingkan diri sendiri, tamak, serakah, suka merusak, menyakiti yang lemah, mau menang sendiri dan tak mau mendengarkan nasihat adalah bagian dari sifat-sifat hewaniyah yang melekat pada manusia. Penyembelihan binatang kurban bisa menjadi perlambang bahwa pelakunya sedang “menyembelih” sifat-sifat hewaniyah yang tidak patut dimiliki oleh manusia yang mulia dan terhormat. Selanjutnya sifat-sifat itu diganti dengan sifat-sifat karimah, seperti suka menolong, sederhana, menyantuni yang lemah, qana’ah, tawadlu dan mau menerima kritik.

Penyembelihan binatang adalah simbol, bahwa kita harus menyembelih, memotong “meuncit” sifat-sifat pelit medit, koret ‘meregehese’, diganti dengan sifat dermawan, saling mengasihi dan menyantuni.

Mudah-mudahan kegiatan kurban yang akan dilaksanakan oleh keluarga besar SMKN 1 Palasah akan mendapat berkah, maghfirah dan ridho Allah SWT.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 20, 2015 in Jumat

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: