RSS

Esensi Kurban

20 Okt

ESENSI KURBAN

Ma’asyiral Muslimin,
Jamaah Shalat ‘Idul Adha Rahimakumullah

Alhamdullah,
kita panjatkan puja dan puji kehadirat Illahi Rabbi, Allah Yang Maha Pemurah, yang telah memberikan nikmat begitu melimpah, antara lain nikmat hidayah, inayah, sehingga kita masih bisa duduk diatas sajadah, ditengah lapangan sekolah, dikelilingi gedung yang megah, untuk murroqobah, untuk muhasabbah, untuk beribadah melaksanakan shalat ‘Idul adha berjamaah.

Mudah-mudahan,
dengan pelaksanaan Shalat ‘Id di sekolah, akan menjadikan sekolah kita penuh berkah dan kita semua menjadi Insan karimah, yaitu insan yang ibadahnya selalu istiqomah, hatinya sakinah, jiwanya mutmainah dan akhlaknya selalu terarah.

Sholawat dan salam,
marilah kita sampaikan kepada jujunan kita, idola kita, panutan kita, teladan kita, imam kita, nabiyyana, wa habibana, wa syafi’ana, wa maulana Muhammad SAW, yang telah menaburkan rahmat,menyempurnakan nikmat, menyelamatkan umat, dan yang akan memberikan syafaat nanti diakhirat, khususnya bagi umatnya yang rajin maca sholawat.

Ma’asyiral Muslimin,
Jamaah Shalat ‘Idul Adha Rahimakumullah

Semenjak tadi malam suara takbir bergema dalam dada, suara tahlil bergelora dalam jiwa dan suara tahmid bergetar dalam sukma.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله اكبر الله أكبر ولله الحمد

Tatkala kita takbir, Allah kecilkan apa-apa yang kita besar-besarkan. Pangkat jabatan, harta kekayaan, kekuasaan kedudukan semuanya kecil dihadapan Allah.
Tatkala kita tahlil, Allah patrikan tauhid kita. Semakin sering kita mengucapkan kalimat tahlil maka semakin kuat keyakinan kita kepada Allah.
Tatkala kita tahmid, Allah tambahkan nikmat kita. Nikmat-nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita sangat banyak sekali. Kita tidak akan sanggup untuk menghitungnya.

وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآ‌ۗ

34. .. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. .

Ucapan takbir, tahlil dan tahmid ini lahir dari bibir kita manakala kita sering memperhatikan, merenungkan dan memikirkan ayat-ayat Allah, baik ayat-ayat Allah yang tersirat dan tersurat dalam Al Qur’an maupun ayat-ayat Allah yang tertulis dan terlukis di alam semesta..

أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى ٱلۡإِبِلِ ڪَيۡفَ خُلِقَتۡ (١٧) وَإِلَى ٱلسَّمَآءِ ڪَيۡفَ رُفِعَتۡ (١٨) وَإِلَى ٱلۡجِبَالِ كَيۡفَ نُصِبَتۡ (١٩) وَإِلَى ٱلۡأَرۡضِ كَيۡفَ سُطِحَتۡ (٢٠)

17. Maka Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana Dia diciptakan,
18. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?
19. Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?
20. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?
(QS Al Ghaasyiyah (88 ) ayat 17-20)

Kita perhatikan, kita renungkan, kita fikirkan bagaimana langit ditinggikan, bumi dihamparkan, gunung ditegakkan, lautan dibentangkan, manusia dihidupkan, binatang diciptakan, angin ditiupkan, matahari dipanaskan.
Tatkala memikirkan semua itu terlahir ucapan “Allahu Akbar”, itulah yang dinamakan Tafakur; memperhatikan, merenungkan dan memikirkan dengan sungguh-sungguh kebesaran dan kekuasaan Allah. Setelah itu kita akan teringat bahwa yang mencitakan, menjadikan, menghidupkan, menggerakkan semua itu hanyalah Allah, terlahirlah ucapan “Laa Illaaha Illallaahu”, itullah Tadzakur; yaitu mengingat dan menyebut nama Allah. Kemudian setelah Tafakur dan Tadzakur berhasil kita lakukan maka akan timbul kesadaran dalam diri kita untuk mensyukuri semua itu, terlahirlah ucapan “Walillaahil hamdu”, itulah Tasyakur; mensyukuri nikmat Allah dengan beribadah kepada Allah. Nikmat-nikmat Allah sungguh sangat banyak sekali, sedangkan syukur kita kepada Allah teramat sedikit. Kita fakir dihadapan Allah, kita juga kikir dalam mengabdi kepada Allah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar,
Ma’asyiral Muslimin, Rahimakumullah

Idul adha yang kita rayakan pada setiap tanggal 10 Dzulhijah dikenal dengan sebutan “Idul Qurban”. Perkataan kurban seakar dengan kata taqarrub, yang berarti mendekatkan diri kepada Allah, dimana orang yang memiliki kecukupan harta diperintahkan untuk berkurban, yaitu menyembelih hewan qurban. Sebagaimana firman Allah dalam QS Al Kautsar (108) ayat 1-3

إِنَّآ أَعۡطَيۡنَـٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ (١) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ (٢) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ (٣)

1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
2. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.
3. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus.

Ibadah kurban termasuk ibadah yang tertua dalam sejarah manusia. Ibadah ini dilukiskan QS Al Maidah (5) ayat 27 – 31 berasal dari dua putra Nabi Adam, Habil dan Qobil, yang mempersembahkan kurban mereka kepada Allah. Allah menerima kurban Habil. Karena dilandasi oleh ketulusan dan keikhlasan. Sementara kurban Qobil yang didasari oleh rasa iri dan dengki kepada saudaranya tidak diterima Allah. Karena sakit hati, Qobil akhirnya membunuh Habil. Itulah pembunuhan pertama dalam sejarah manusia.

Dalam perjalanan sejarah, ibadah kurban pun mengalami penyimpangan. Kurban tidak lagi diniatkan untuk mengabdi, berserah diri, menghambakan diri kepada-Nya, tapi “upeti” untuk membujuk agar tuhan-tuhan penguasa alam tidak murka. Bahkan di Mesir kuno, yang dikurbankan adalah manusia (wanita tercantik di negeri itu).

Nabi Ibrahim as bersama putranya Ismail diutus untuk mengembalikan hakikat kurban. Melalui ujian yang mahaberat- Ibrahim as diperintahkan menyembelih putranya, seperti terekam dalam QS As Shaffat (37) ayat 100-111

رَبِّ هَبۡ لِى مِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ (١٠٠)

100. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh.

فَبَشَّرۡنَـٰهُ بِغُلَـٰمٍ حَلِيمٍ۬ (١٠١)

101. Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang Amat sabar.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡىَ قَالَ يَـٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلۡمَنَامِ أَنِّىٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰ‌ۚ قَالَ يَـٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُ‌ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِينَ (١٠٢)

102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”.

فَلَمَّآ أَسۡلَمَا وَتَلَّهُ ۥ لِلۡجَبِينِ (١٠٣)

103. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).

وَنَـٰدَيۡنَـٰهُ أَن يَـٰٓإِبۡرَٲهِيمُ (١٠٤)

104. Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,

قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآ‌ۚ إِنَّا كَذَٲلِكَ نَجۡزِى ٱلۡمُحۡسِنِينَ (١٠٥)

105. Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

إِنَّ هَـٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَـٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ (١٠٦)

106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.

وَفَدَيۡنَـٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٍ۬ (١٠٧)

107. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِى ٱلۡأَخِرِينَ (١٠٨)

108. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian,

سَلَـٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٲهِيمَ (١٠٩)

109. (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”

كَذَٲلِكَ نَجۡزِى ٱلۡمُحۡسِنِينَ (١١٠)

110. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

إِنَّهُ ۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ (١١١)

111. Sesungguhnya ia Termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

Demikian Allah telah menyampaikan wahyu-Nya untuk dijadikan sebagai renungan, pelajaran dan hikmah bagi kita semua.

Ma’asyiral Muslimin,
Jamaah Shalat ‘Idul Adha Rahimakumullah

Keteladanan Nabi Ibrahim menyembelih Ismail patut kita jadikan bahan renungan. Sepasang ayah dan anak yang saling mencintai rela berpisah dan melepas kecintaannya demi memenuhi perintah Allah SWT. Ibrahim adalah cermin seorang ayah yang sangat mencintai anaknya.. Lebih-lebih Ismail terlahir setelah ia berdoa bertahun-tahun tiada henti kepada Allah, Ismail adalah anak impian, dambaan dan kebanggaaan. Maka sejak kecil Ismail ia rawat, pelihara dan didik dengan sebaik-baiknya. Akan tetapi, kecintaanya kepada Ismail tidak melebihi kecintaannya kepada Allah. Kecintaanya kepada Ismail tidak melalaikan dan melemahkan pengabdiannya kepada Allah.

Menurut Ali Syariati (1997), Ismail tersebut sesungguhnya simbol setiap sesuatu yang melemahkan iman, menghalangi perjalanan dan memikirkan kepentingan sendiri. Ismail hanya simbol manusia, benda, pangkat, kedudukan dan kelemahan diri. Ismail adalah simbol istri, pekerjaan, keahlian, kepuasan nafsu, kekuasaan dan lainnya. Semua kelemahan inilah yang harus disembelih dan dikorbankan demi mencapai kurban (kedekatan) diri kepada Allah

Ibadah kurban juga mengingatkan bahwa kita mempunyai sifat- sifat hewaniyah, bahimiyah,. Egois, mementingkan diri sendiri, tamak, serakah, suka merusak, menyakiti yang lemah, mau menang sendiri dan tak mau mendengarkan nasihat adalah bagian dari sifat-sifat hewaniyah yang melekat pada manusia. Penyembelihan binatang kurban bisa menjadi perlambang bahwa pelakunya sedang “menyembelih” sifat-sifat hewaniyah yang tidak patut dimiliki oleh manusia yang mulia dan terhormat. Selanjutnya sifat-sifat itu diganti dengan sifat-sifat karimah, seperti suka menolong, sederhana, menyantuni yang lemah, qana’ah, tawadlu dan mau menerima kritik.

Penyembelihan binatang adalah simbol, bahwa kita harus menyembelih, memotong “meuncit” sifat-sifat pelit medit, koret ‘meregehese’, diganti dengan sifat dermawan, saling mengasihi dan menyantuni.

Ma’asyiral Muslimin,
Jamaah Shalat ‘Idul Adha Rahimakumullah

Dalam QS Al Hajj (22) ayat 37 Allah berfirman :

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَـٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡ‌ۚ كَذَٲلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمۡ لِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَٮٰكُمۡ‌ۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُحۡسِنِينَ (٣٧)

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”

Dari ayat diatas Allah menegaskan bahwa daging dan darah binatang kurban sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, melainkan ketaqwaan manusia yang dapat mencapainya. Artinya dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah, kita juga harus mendekatkan hati dan membagi kebahagiaan kepada saudara-saudara kita yang kurang beruntung dengan membagi-bagikan daging kurban.. Lebih-lebih disaat sebagian saudara kita yang sedang tertimpa musibah,bencana banjir bandang di Wasior, bencana tsunami di Mentawai dan bencanagunung merapi di Jawa Tengah
Itulah sebabnya, meskipun ibadah ini tidak wajib (hanya sunnah muakkadah), kecaman Nabi Muhammad SAW terhadap orang yang enggan berkurban sangat keras.

“Siapa yang mampu berkurban tapi tidak mau melakukannya, maka sekali-kali jangan ia dekati tempat shalat (Idul Adha) kami”.

Ma’asyiral Muslimin,
Jamaah Shalat ‘Idul Adha Rahimakumullah

Kepada anak-anaku yang mengikuti kegiatan sholat Idul Adha di sekolah, marilah kita teladani, jadikan uswatun hasanah, ucap, sikap dan perilaku Ismail. Jadilah Ismail Ismail masa kini yang fikirnya cerdas dan berkualitas, hatinya tulus dan ikhlas, ucapannya lugas dan pantas, sebagaimana tergambar dalam ucapan, ketika ayahnya mengayunkan pisau, Ismail berkata :
“Wahai ayah, ikatlah kaki dan tangan saya kuat-kuat, agar gelepar tubuh saya tidak membuat ayah bimbang. Telungkupkanlah tubuh saya, sehingga muka menghadap ke tanah, supaya ayah tidak sedih melihat wajah saya. Ayah, jagalah darahku jangan sampai memerciki pakaian ayah karena bisa menyebabkan perasaan iba, sehingga akan mengurangi pahala. Dan asahlah pisau itu tajam-tajam, agar penyembelihan berjalan lancar. Wahai ayah, baju saya yang berlumuran darah nanti, bawalah pulang dan serahkan kepada ibu. Ayah sampaikanlah salamku kepada ibu, semoga beliau bersabar menerima ujian ini “

Menyaksikan tragedi penyembelihan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah umat manusia, Malaikat kagum, seraya terlontar darinya suatu ungkapan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.”Nabi Ibrahim menjawab “Laailaha Illahu Allahu Akbar” Yang kemudian disambung oleh Nabi Ismail “Allahu Akbar Walillahil Hamdu”

Download disini

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 20, 2011 in Idul Adha

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: